"Perjalanan itu Mengikat Tali Silaturahiim dan Persaudaraan"
24 Maret 2011
14 Maret 2011
Earth Hour Semarang, Green Campaign for Energy Saving
Seperti pada minggu-minggu sebelumnya, Car Free Day digelar di Jl Pemuda Semarang, tapi baru hari minggu lalu (13/03) saya baru sempat mampir dan beraktivitas pagi disana, ini pun karena diajak oleh teman kampus saya untuk ikut green campaign bersama rekan-rekan Earth Hour Semarang, sebuah gerakan green lifestyle yang mengajak untuk lebih hemat energi.
”Setelah Satu Jam, Jadikan Gaya Hidup” sebuah slogan yang mengajak kita untuk menghentikan penggunaan listrik selama satu jam pada tanggal 26Maret2011. Tujuannya menghemat penggunaan energi dengan menjadikan hemat listrik sebagai gaya hidup. Sebagai catatan, Indonesia sebagai negara berkembang yang banyak bergantung pada potensi sumber daya alam dan membutuhkan listrik untuk mendukung pembangunan, Indonesia harus menjaga kebutuhan ekstraksi alamnya agar tidak berkontribusi besar menjadi salah satu pengemisi terbesar di dunia, dan tetap dapat melanjutkan upaya memenuhi kebutuhan penduduk yang makin besar setiap tahun, termasuk dari sisi energi (http://www.earthhour.wwf.or.id/about.php). Nah untuk itulah gerakan Earth Hour ini memberikan solusi dengan aksi yang kecil untuk memberikan perubahan yang besar bagi bumi, cukup dengan menghentikan penggunaan listrik selama satu jam, kemudian jadikan aksi ini sebagai gaya hidup.
Green campaign pagi itu diawali dengan briefing di depan balaikota Semarang. Aksi pertama, peserta melakukan frozen time, yaitu melakukan aksi patung di sekitar Jl Pemuda, di tengah-tengah kegiatan berbagai komunitas. Sebanyak kurang lebih 40an peserta green campaign berjalan menyebar di sepanjang Jl Pemuda, tiga titik yang digunakan untuk melakukan forzen time, pertama di depan SMA 5 Semarang, di depan Balaikota, dan di depan. Awalnya peserta melakukan aktivitas biasa, dengan aba-aba yang sudah dipasang di mp3, setiap peserta melakukan aksi patung selama satu menit. Aksi ini adalah sebagai simbolis dari penghentian penggunaan energi, walau hanya sesaat namun jika dilakukan oleh banyak orang, maka ini akan berpengaruh besar, apalagi jika menjadi gaya hidup.
Aksi yang kedua, adalah aksi kampanye seperti pada umumnya. Kami longmarch menuju tugu muda. Sambil membawa spanduk dan papan kampanye, kami berjalan dan memberikan leaflet dukungan dan ajakan untuk mengikuti gerakan Earth Hour. Di simpang tugu muda, dilakukan orasi singkat dan ajakan kepada para masyarakat Semarang dan sampai aksi berakhir pada pukul 9.
Memang tidak besar yang bisa dilakukan, hanya dengan sedikit kesadaran untuk bersama-sama melakukan aksi kecil, hemat listrik dijadikan sebagai gaya hidup. Dengan aksi kecil ini semoga bisa memberikan kontribusi besar bagi bumi.
”Setelah Satu Jam, Jadikan Gaya Hidup”
11 Maret 2011
Kisah Pait di Pagi Hari
Suara itu menembus kamar kosku, pagi hari setelah bangun untuk yang kedua kalinya setelah sholat shubuh. Pekik terdengar, lama kelamaan semakin keras. Aku masih enggan membuka mata, tapi riuh redam suara itu telah mengganggu tidurku.
Dalam tidur, aku mencoba mendengar dengan seksama suara yang terus menerus berulang. Suara ucapan remaja tanggung yang membuyarkan mimpi yang susah ku rajut sambung dari malam hingga ba'da shubuh. Suara itu lama-lama menjadi sebuah mimpi saya di pagi itu.
Walau hanya 5 menit, masih ku ingat sampai saat ini. Semakin jelas suara itu, akhirnya saya dapat mencerna dengan baik maksud dari suara itu. "Pait.. Pait.. Pait.." bunyi suara itu menembus jelas kamar kosku. Ternyata anak ibu kos sedang dikejar tawon.. heeaaah... -_-"
Dalam tidur, aku mencoba mendengar dengan seksama suara yang terus menerus berulang. Suara ucapan remaja tanggung yang membuyarkan mimpi yang susah ku rajut sambung dari malam hingga ba'da shubuh. Suara itu lama-lama menjadi sebuah mimpi saya di pagi itu.
Walau hanya 5 menit, masih ku ingat sampai saat ini. Semakin jelas suara itu, akhirnya saya dapat mencerna dengan baik maksud dari suara itu. "Pait.. Pait.. Pait.." bunyi suara itu menembus jelas kamar kosku. Ternyata anak ibu kos sedang dikejar tawon.. heeaaah... -_-"
Tragedi Gramedia dan Doa yang Terkabul
Kemarin saya bertandang ke Gramedia hanya sekedar untuk memuaskan nafsu saya yang sudah lama tak membeli buku. Sebenarnya pun kali ini saya terlalu maksa untuk shoping buku, karena pada waktu yang bersamaan tidak ada budget di kantong saya untuk membeli buku. Di gramedia, saya kaya anak ilang mencari ibu yang ilang. Memang sebelumnya tak ada buku inceran yang ingin saya beli.
Mata saya sepet liat harga-harga buku, yang nampaknya hari itu terasa mahal semua. Alhasil ga ada yang nyantol di hati saya, bukan lantaran bukunya ga ada yang saya anggap bagus, tapi emang duit saya yang kaga nyampe. Padahal saya sebenarnya orang yang royal untuk beli buku (sama halnya royal untuk beli makan,hehe) dibandingkan untuk shoping baju ato aneka ragam tentang fashion. Apa boleh baut, nasi telah menjadi bubur (maka saya tambahkan kecap asin, ayam, krupuk, sambel), saya telah di gramedia, mau ga mau saya harus beli buku walopun cuma satu.
Beruntungnya di gramed lagi jual buku-buku diskon jadul yang kaga laku. Menindaklanjuti kesempatan untuk beli buku murah, akhirnya saya liat-liat deh tuh buku-buku diskon. 1 jam saya ngubek-ngubek, belum jg ada yang nyangkut di hati, pikiran dan nafsu saya untuk beli buku, walo 1 pun. Waktu menjelang ashar, saya sudah kalap, karena belum dapet 1 buku juga. Alhasil saya random pencarian buku saya.
Kali ini saya batasi pencarian buku, seputar kumpulan cerpen atau novel ringan. Jeng..jeng.. dapet juga 1 buku kumpulan cerpen karnyanya Mas Radhar Panca Darma, judulnya "Cerita-cerita Negeri Asap". Tanggung satu buku lagi pikir saya. akhirnya sistem pencarian cepat mata saya tertuju pada satu buku, judulnya "Kota Matahari". Sebenarnya yang bikin saya tertarik untuk buku yang terakhir ini (saya pikir itu novel) karena harganya cuma goceng. Tanpa membaca ulasan di belakang cover, saya bawa aja dah tu dua buku kekasir. Untuk shoping buku kali ini saya keluarin noban dari dompet saya. Tak mahal untuk 2 buku kecil bandrolan gramed pikir saya hari itu.
Sampe di kosan, bakda sholat ashar, saya buka dua buku itu, untuk menimbang-nimbang buku mana duluan yang saya lahap. Satu buku saya buka cepat, karena udah tau itu kumpulan cerpen, dan not bad lah untuk membunuh rasa bosan saya akhir-akhir ini. Nah yang terakhir saat saya buka buku.. Tidaaaaaak, ternyata adalah buku kumpulan puisi karya Umar Husein. Arrrggghhhh, saya menggerutu dalam hati, apakah yang terjadi ini ya Allah, saya memebeli buku puisi (hehe). Bukannya saya tidak suka puisi (bukannya suka juga), tapi rasanya memang saya saat ini belum selera untuk baca cuplikan-cuplikan kalimat yang terpotong-potong penuh makna dan terkadang melankolis itu. haha.. "Ya Allah, buatlah buku ini berguna", doa saya setelah tragedi ini.
Beberapa menit kemudian, teman saya masuk kamar. "Mas, dari gramed ya? Beli Buku apa?" teman saya penasaran. "Noh liat aja" saya jawab tanpa ekspresi. "wah buku puisi mas? apiik kie mas". "bawa aja bukunya kalo mau". "oke mas tak pinjem ya". Obrolan singkat itu menjawab doa saya beberapa menit lalu yang baru saya panjatkan. Allah mengabulkan doa saya. Dalam hati,"Terimakasih ya Allah, semoga buku itu bermanfaat di tangan orang yang tepat."
2 Maret 2011
Negeri Para Bedebah
Presiden Bedebah!!!
Tak ada perubahan signifikan kesejahteraan rakyat, berkoar-koar kesuksesan semu, nyatanya rakyat tetap melarat.
Pemerintah Bedebah!!!
Sok sibuk dengan program-program yang akhirnya tak juga sampai kepada rakyat.
Wakil Rakyat Bedebah!!!
Sibuk berpolitik hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan saja.
Hakim Bedebah!!!
Memutuskan perkara tanpa keadilan.
Jaksa Bedebah!!!
Hanya sibuk dengan uang suap.
Polisi Bedebah!!!
Perutnya semakin tambun karena uang sogok.
Mahasiswa Bedebah!!!
Banyak aksi tanpa prestasi.
Rakyat Bedebah!!!
Sibuk menyalahkan dan menuntut hak tanpa menjalankan kewajiban.
Saya Bedebah!!!
Hanya bisa mencaci tanpa memberi solusi.
Yang Membaca Tulisan Ini mungkin Bedebah!!!
Hanya tersenyum sinis, menghujat, bahkan apatis.
Langganan:
Postingan (Atom)